4 Masalah yang Dibenci Para Pencari Kerja Online

Kebanyakan pencari kerja telah mengikuti dan mengisi aplikasi online untuk calon perusahaan. Aplikasi yang terotomatisasi ini meminta kandidat untuk memasukkan informasi dan resume pribadi mereka, biasanya dalam bentuk menu drop-down dan form kosong. Informasi tersebut masuk ke database pencari kerja, dan hanya beberapa yang beruntung dikontak oleh perusahaan.

Pemanfaatan aplikasi terotomatisasi ini dapat menghemat biaya merekrut manajer yang dimana kerjanya menerima serbuan email yang berisi CV dan resume tradisional, banyak pencari kerja mengumpulkan berkas online dan berakhir diabaikan, tanpa adanya timbal balik dari calon perusahan, berkembanglah tren pengabaian respon untuk resume yang dikenal sebagai "resume black hole".

Membangun sistem perekrutan pekerja yang bagus dan berkelanjutan harus ada di agenda paling atas setiap perusahaan, tapi kebanyakan perusahaan tidak mengoptimalkan proses perekrutan ini sehingga tidak sepenuhnya menyearing dan menemukan bakat para kandidat. Penelitian dari Seven Step menyimpulkan data survey bahwa ada 4 masalah teratas yang dibenci oleh pencari kerja online.

Masalah yang dihadapi Pencari Kerja Online

Kandidat yang melamar sering kali diabaikan. satu-per-empat responden survey mengindikasikan bahwa mereka tidak pernah mendapat pengakuan dari perusahaan yang dilamarnya terhitung dari lamaran kerja terakhir. Generasi senior dan milenial tampaknya adalah golongan umur yang sering diabaikan oleh perusahaan, dari kelompok senior 45 persen dan milenial 40 persen melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan respon dari perusahaan.

Artikel terkait: 10 tips menulis profil LinkedIn yang baik

masalah pencari kerja online


Aplikasi online membutuhkan waktu lama untuk diisi. Sebanyak satu-per-tiga (30 persen) dari semua kandidat tidak mau menghabiskan waktunya lebih dari 15 menit untuk mengisi aplikasi online tersebut, meskipun toleransi panjangnya aplikasi bervariasi tergantung umur. Kandidat yang berusia 25-34 tahun tampaknya adalah golongan umur yang paling tidak sabar, walaupun 36 persen dari mereka mau menghabiskan 15 menit atau kurang dari waktu mereka, sedangkan 35 persen dari golongan milenial (dibawah 25 tahun) mau menghabiskan 45 menit waktu mereka untuk mengisi satu aplikasi.

Perusahaan tidak berkomunikasi lebih lanjut, peneliti survey dari Steven Step mencatat bahwa perusahaan harus menciptakan komunitas online untuk keterlibatan kandidat, bahkan jika tidak ada posisi yang tersedia untuk kandidat tertentu. Dua-per-tiga dari kandidat yang disurvey tidak di-follow up untuk bergabung dengan komunitas perusahan, yang berarti tidak ada komunikasi lebih lanjut setelah mereka mengirim aplikasi.

Kandidat mendapat respon otomatis, bukan dari orang yang nyata. Lebih dari 40 persen dari responden survey megatakan mereka mencari sumber daya manusia yang langsung mengontak mereka dari website perusahan tersebut, bahkan setelah mereka mengisi aplikasi online. Perilaku ini sangat umum di kalangan kandidat yang berpenghasilan tinggi, bahkan 80 persen dari mereka dilaporkan lebih suka mendaftar langsung ke manajer perekrutan daripada mengisi aplikasi online.

Baca juga: Cara mencari karyawan yang punya passion tinggi

Menurut penelitian oleh Seven Step, cara terbaik untuk perusahaan menghindari bakat-bakat terbaik adalah dengan cara responsif dan terlibat langusng dengan para kandidat.